1.
Pengertian
Penalaran Ilmiah
Adalah suatu proses berfikir dengan
menghubung-hubungkan bukti, fakta, atau petunjuk menuju suatu kesimpulan.
Dengan kata alur dari pernyataanlain,
penalaran adalah proses berfikir yang sistematis dalam logis untuk memperoleh
sebuah kesimpulan atau informasi yang sebelumnya tidak diketahui. Bahan
pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau
pendapat para ahli (otoritas).
Penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah.
Mengesampingkan unsur emosi, sentiment pribadi atau sentiment kelompok.
Dan tetap berdasarkan pada keilmuan.
Ciri-ciri Penalaran :
- Adanya suatu pola piker yang secara luas disebut logika.
- Sifat analitik dari proses berfikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berfikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
- Menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan, keputusan atau sikap yang baru.
- Premis berupa pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang telah diperoleh.
Tujuan Penalaran
Tujuan dari
penalran adalah untuk menentukan secara logis atau objektif, apakah yang kita
lakukan itu benar atau tidak sehingga dapat dilaksanakan.
Ada dua jenis
metode penalaran secara umum :
1.
Penalaran Deduktif
Metode
berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang
umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang
khusus. Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui
sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif,
dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri
atas beberapa unsur yaitu:
1.
Dasar pemikiran utama (premis mayor)
2.
Dasar pemikiran kedua (premis minor)
3.
Kesimpulan
Jenis
penalaran deduktif yaitu:
1) Silogisme
Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
2) Silogisme
Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi
konditional hipotesis.
3) Silogisme
Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif.
4) Entimen
= Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Premis
mayor : Semua siswa SMA kelas X wajib mengikuti pelajaran Sosiologi.
Premis
minor : Bob adalah siswa kelas X SMA
Kesimpulan : Bob wajib mengikuti jam pelajaran
Sosiologi
· CONTOH PARAGRAF DEDUKTIF
Chairil Anwar terkenal sebagai penyair. Ia disebut penyair yang membawa pembaharuan dalam puisi. Ada yang mengatakan dia sebagai seorang individualis. Ada yang menilai bahwa ia seorang yang kurang bermoral dan plagiat karena ada sebagian kecil dalam gubahannya merupakan jiplakan dari puisi asing. Dalam sajak-sajaknya yang dikumpulkan dalam "Deru Campur Debu" memperlihatkan adanya perbedaan bentuk, corak, gaya, dan isi. Tanggapan orang terhadap Chairil berbeda-beda. Namun, bagaimanapun ia tetap seorang penyair besar yang membawa kesegaran baru dalam bidang puisi pada 1945.
Chairil Anwar terkenal sebagai penyair. Ia disebut penyair yang membawa pembaharuan dalam puisi. Ada yang mengatakan dia sebagai seorang individualis. Ada yang menilai bahwa ia seorang yang kurang bermoral dan plagiat karena ada sebagian kecil dalam gubahannya merupakan jiplakan dari puisi asing. Dalam sajak-sajaknya yang dikumpulkan dalam "Deru Campur Debu" memperlihatkan adanya perbedaan bentuk, corak, gaya, dan isi. Tanggapan orang terhadap Chairil berbeda-beda. Namun, bagaimanapun ia tetap seorang penyair besar yang membawa kesegaran baru dalam bidang puisi pada 1945.
Penarikan
kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak
langsung.
A.
Penarikan
simpulan secara langsung
Simpulan
secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis. Premis
yaitu prosisi tempat menarik simpulan.
Simpulan secara langsung :
1.
Semua S adalah P. (premis)
Sebagian
P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
Sebagian
yang mempunyai rambut adalah manusia. (simpulan)
2.
Semua S adalah P. (premis)
Tidak
satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak
berbahaya. (simpulan)
3.
Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua
S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
Semua gajah adalah bukan jerapah. (simpulan)
4.
Semua S adalah P. (premis)
Tidak
satu-pun S adalah tak P. (simpulan)
Tidak
satu-pun tak P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua kucing adalah berbulu. (premis)
Tidak
satu pun kucing adalah tak berbulu. (simpulan)
Tidak
satu pun yang tak berbulu adalah kucing. (simpulan)
B.
Penarikan
simpulan secara tidak langsung
Untuk
penarikan simpulan secara tidak langsung diperlukan dua premis sebagai data.
Dari dua premis tersebut akan menghasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama
adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang
bersifat khusus.
Jenis
penalaran deduksi dengan penarikan simpulan tidak langsung, yaitu:
1.
Silogisme
Silogisme
adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun
dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Contohnya:
- Semua manusia akan mati
- Ani adalah manusia
Jadi,
Ani akan mati. (simpulan)
- Semua manusia bijaksana
- Semua dosen adalah manusia
Jadi,
semua dosen bijaksana. (simpulan)
2.
Entimen
Entimen
adalah penalaran deduksi secara tidak langsung. Dan dapat dikatakan silogisme
premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contohnya
:
- Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
- Pada malam hari tidak ada sinar matahari
Pada
malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis.
- Semua ilmuwan adalah orang cerdas
- Anto adalah seorang ilmuwan.
Jadi,
Anto adalah orang cerdas.
Jadi,
dengan demikian silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, entimen juga dapat dijadikan silogisme.
2. Penalaran Induktif
Metode
berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak
dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat
umum. Dalam penalaran induktif ini, kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta
peristiwa atau pernyataan yang bersifat umum.
Contoh:
Bukti 1 : logam 1 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 2 : logam 2 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 3 : logam 3 apabila dipanaskan akan memuai
Kesimpulan: Semua logam apabila dipanaskan akan
memuai.
Ciri-ciri
Paragraf Induktif
1. Terlebih dahulu
menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
2. Kemudian, menarik
kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
3. Kesimpulan terdapat
di akhir paragraph
4. Menemukan Kalimat
Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
5. Kalimat utama paragraf
induktif terletak di akhir paragraph
6. Gagasan Utama
terdapat pada kalimat utama
7. Kalimat penjelas
terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa
khusus
8. Kalimat penjelas
merupakan kalimat yang mendukung gagasa utama
Jenis
Paragraf Induktif :
·
Generalisasi
·
Analogi
·
Klasifikasi
·
Perbandingan
·
Sebab
akibat (terbagi menjadi tiga jenis)
- Sebab akibat
- Akibat sebab
- Sebab akibat 1 akibat 2
Pengertian
Paragraf Generalisasi
Kata kunci: “General = umum”
Generalisasi adalah penalaran induktif dengan cara
menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau
peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili
Contoh Paragraf Induktif Generalisasi
Setelah karangan anak-anak kelas 3 diperiksa, ternyata
Ali, toto, Alex, dan Burhan mendapat nilai 8. Anak-anak yang lain mendapat 7.
Hanya Maman yang 6, dan tidak seorang pun mendapat nilai kurang. Boleh
dikatakan, anak kelas 3 cukup pandai mengarang. A.S. Broto (ed.)
Pengertian
Paragraf Analogi
Analogi adalah penalaran induktif dengan membandingkan
dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut,
Anda dapat menarik kesimpulan.
Contoh Paragraf Induktif Analogi
Sifat manusia ibarat padi yang terhampar di sawah yang
luas. Ketika manusia itu meraih kepandaian, kebesaran, dan kekayaan, sifatnya
akan menjadi rendah hati dan dermawan. Begitu pula dengan padi yang semakin
berisi, ia akan semakin merunduk. Apabila padi itu kosong, ia akan berdiri
tegak.
Pengertian
Paragraf Sebab Akibat
Paragraf hubungan sebab akibat adalah paragraf yang
dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada
simpulan yang menjadi akibat.
Contoh Paragraf Induktif Sebab Akibat
Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya,
pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu,
irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin
mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya.
Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.
Pengertian
Paragraf Akibat Sebab
Paragraf hubungan akibat sebab adalah paragraf yang
dimulai dengan fakta khusus yang menjadi akibat, kemudian fakta itu dianalisis
untuk diambil kesimpulan.
Contoh Paragraf Induktif Akibat Sebab
Hasil panen para petani di Desa Cikaret hampir setiap
musim tidak memuaskan. Banyak tanaman yang mati sebelum berbuah karena diserang
hama. Banyak pula tanaman yang tidak berhasil tumbuh dengan baik.
Bukan itu saja, pengairan pun tidak berjalan dengan
lancar dan penataan letak tanaman tidak sesuai dengan aturannya. Semua itu
merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan para petani dalam pengolahan
pertanian.
Pengertian
Paragraf Sebab Akibat 1 Akibat 2
Dalam paragraf hubungan sebab akibat 1 akibat 2, suatu
penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi
sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikian seterusnya hingga timbul beberapa
akibat.
Contoh Paragraf Induktif Sebab Akibat 1 Akibat 2
Baru-baru ini petani Cimanuk gagal panen karena
tanaman padi mereka diserang hama wereng. Peristiwa ini menelan kerugian
ratusan juta rupiah. Selain itu, distribusi beras ke kota-kota besar seperti
Jakarta dan Bandung terganggu.
Pendekatan
Ilmiah (Gabungan antara Deduktif dan Induktif)
Metode berpikir pendekatan ilmiah adalah penalaran
yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan cara berpikir induktif. Dalam
pendekatan ilmiah, penalaran disertai dengan suatu hipotesis.
Misalkan
seorang siswa yang apabila sebelum berangkat sekolah telah sarapan terlebih
dahulu dalam porsi yang banyak, dia tidak akan kelaparan hingga jam pelajaran
berakhir. Secara deduktif, akan disimpulkan bahwa setiap anak yang makan banyak
tidak akan cepat lapar. Untuk menjawab kasus seperti ini, kita ajukan
pertanyaan mengapa seorang siswa cepat lapar? Untuk itu, kita ajukan hipotesis
bahwa siswa akan cepat lapar jika makanan yang dimakan kurang memenuhi standar
gizi dan energi yang dihasilkan oleh makanan tersebut sedikit. Kemudian secara
induktif kita uji untuk mengetahui
apakah hasil pengujian mendukung atau tidak mendukung hipotesis yang diajukan
tersebut.
Salah Nalar
Salah nalar
(reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir
karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan. Kekeliruan ini dapat terjadi
karena faktor emosional, kecerobohan atau ketidaktahuan. Salah
tafsir dapat terjadi karena kekeliruan induktif, deduktif, penafsiran relevansi
dan peggunaan otoritas yang berlebihan.
Yang termasuk penalaran ilmiah adalah
Penulisan
ilmiah, yaitu suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Penulisan ilmiah juga
merupakan uraian atau laporan tentang kegiatan, temuan, atau informasi yang
berasal dari kata primer dan atau sekunder, serta disajikan untuk tujuan dan
sasaran tertentu. Informasi yang berasal dari data primer, yaitu didapatkan dan
dikumpulkan langsung dan belum diolah dari sumbernya seperti tes, kuisioner,
wawancara, pengamatan/observasi. Dapat juga dari informasi sekunder, yaitu telah
dikumpulkan dan diolah oleh orang lain, seperti melalui dokumen (laporan),
hasil penelitian, jurnal, majalah, maupun buku.
karya tulis ilmiah, yaitu tulisan yang didasari oleh pengamatan,
peninjauan, atau penelitian dalam bidang tertentu dengan sistematika penulisan
yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggung jawabkan kebenerannya.
Atas dasar itu, sebuah karya ilmiah harus memenuhi tiga syarat, yaitu:
Atas dasar itu, sebuah karya ilmiah harus memenuhi tiga syarat, yaitu:
1) Isi kajiannya berada pada lingkup
pengetahuan ilmiah.
2) Langkah pengerjaannya dijiwai atau
menggyunakan metode ilmiah.
3) Sosok tampilannya sesuai dan telah memenuhi
persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.
2.
Proposisi
Adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di
antara subjek dan predikat. Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang
lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat.
Kaliimat Tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inversi tidak
dapat disebut proposisi. Hanya kalimat berita yang netral yang dapat
disebut proposisi. Tetapi kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila
diubah bentuknya menjadi kalimat berita yang netral.
Jenis-Jenis
Proposisi
Proposisi dapat
dipandang dari 4 kriteria, yaitu berdasarkan :
1. Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan
bentuk dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Tunggal adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan
satu predikat atau hanya mengandung satu pernyataan.
Contoh :
Semua petani
harus bekerja keras.
Setiap pemuda
adalah calon pemimpin
b. Majemuk atau jamak adalah proposisi yang
terdiri dari satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contoh :
Semua petani
harus bekerja keras dan hemat.
Paman bernyanyi
dan menari.
2. Berdasarkan Sifat
Berdasarkan
sifat, proporsisi dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu :
a) Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan / memerlukan syarat apapun.
Contoh:
Semua kursi di
ruangan ini pasti berwarna coklat.
Semua daun
pasti berwarna hijau.
b) Kondisional adalah proposisi yang membutuhkan syarat tertentu di dalam
hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis,
yaitu: proposisi kondisional hipotesis dan disjungtif.
Contoh
proposisi kondisional : Jika hari mendung maka akan turun hujan
Contoh
proposisi kondisional hipotesis : Jika harga BBM turun maka rakyat akan
bergembira.
Contoh
proposisi kondisional disjungtif : Christiano ronaldo pemain bola atau bintang
iklan.
3. Berdasarkan Kualitas
Proposisi ini
juga dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
A. Positif (afirmatif) : proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antar subjek dan predikat.
Contoh:
Semua dokter
adalah orang pintar
Sebagian
manusia adalah bersifat sosial
B. Negatif : proposisi yang menyatakan bahawa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan.
Contoh:
Semua harimau
bukanlah singa
Tidak ada seorang
lelaki pun yang mengenakan rok
4. Berdasarkan Kuantitas
proposisi dapat
dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:
1) Umum : Predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjek.
Contoh:
Semua gajah
bukanlah kera
Tidak seekor
gajah pun adalah kera
2) Khusus : predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian
subjeknya.
Contoh:
Sebagian
mahasiswa gemar olahraga
Tidak semua
mahasiswa pandai bernyanyi
4. Inferensi
dan Implikasi penalaran ilmiah
Definisi inferensi
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal
kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.
Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai idiomatik. Hukum valid inference
dipelajari dalam bidang logika. Inferensi manusia (yaitu bagaimana manusia
menarik kesimpulan).
Jenis-jenis Inferensi
1. Inferensi Langsung : Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya
satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi
yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
Contoh Inferensia Langsung : Pohon yang di tanam pak Budi setahun
lalu hidup.
(Dari premis tersebut dapat kita lansung menari kesimpulan (inferensi)
bahwa: pohon yang ditanam pak budi setahun yang lalu tidak mati).
2.
Inferensi Tak Langsung : Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua atau
lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar
penggabungan proposisi-preposisi lama.
Contoh Inferensi Tak Langsung :
A : Saya melihat ke dalam kamar itu.
B : Plafonnya sangat tinggi.
Inferensi yang
menjembatani kedua ujaran tersebut misalnya (C) berikut ini.
C : kamar itu memiliki plafon.
Implikasi
Pada dasarnya implikasi bisa kita definisikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian. Akan tetapi secara bahasa memiliki arti sesuatu yang telah tersimpul di dalamnya. Di dalam konteks penelitian sendiri, implikasi bisa dilihat. Apabila dalam sebuah penelitian kita mempunyai kesimpulan misalnya "A", "Manusia itu bernafas". Maka "Manusia itu bernafas" yang kita sebut dengan implikasi penelitian. Untuk contohnya, dalam hasil penelitian kita menemukan bahwa siswa yang diajar dengan metode "A" lebih kreatif serta memiliki skill yang lebih baik.
Dengan demikian, dengan menggunakan metode belajar "A" kita bisa mengharapkan siswa menjadi lebih kreatif dan juga memiliki skill yang baik. Setelah itu perlu juga untuk dihubungkan dengan konteks penelitian yang telah kita bangun. Contohnya, sampelnya kelas berapa? seperti apa karakteristik sekolah? ada berapa sampel? dan lain-lainnya. Nah, memang sudah seharusnya implikasi penelitian dilakukan secara spesifik layaknya karakteristik di atas.
Dengan demikian, dengan menggunakan metode belajar "A" kita bisa mengharapkan siswa menjadi lebih kreatif dan juga memiliki skill yang baik. Setelah itu perlu juga untuk dihubungkan dengan konteks penelitian yang telah kita bangun. Contohnya, sampelnya kelas berapa? seperti apa karakteristik sekolah? ada berapa sampel? dan lain-lainnya. Nah, memang sudah seharusnya implikasi penelitian dilakukan secara spesifik layaknya karakteristik di atas.
5. Wujud
Evidensi Penalaran Ilmiah
Unsur yang paling penting dalam suatu tulisan
argumentatif adalah evidensi. Pada hakikatnya evidensi adalah semua
fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan
sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta
dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur-adukkan
dengan apa yang dikenal dengan pernyataan dan penegasan. Pernyataan tidak
berpengaruh apa-apa pada evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah suatu
fakta itu benar atau tidak. Dalam wujud yang paling rendah evidensi itu
berbentuk data atau informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah
bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu.
6. Cara
Menguji Data Penalaran Ilmiah
Data dan informasi yang digunakan dalam
penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian
melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap
digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan
untuk pengujian tersebut.
a. Observasi (metode pengamatan langsung) : metode pengumpulan data dengan mengamati
secara langsung di lapangan. Mengamati bukan hanya melihat, melainkan juga
merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian-kejadian yang ada.
b. Kesaksian : Keharusan menguji data dan informasi, tidak selalu harus
dilakukan dengan observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk mengharuskan
seseorang mengadakan observasi atas obyek yang akan dibicarakan. Kesulitan itu
terjadi karena waktu, tempat, dan biaya yang harus dikeluarkan. Untuk mengatasi
hal itu penulis atau pengarang dapat melakukan pengujian dengan meminta
kesaksian atau keterangan dari orang lain, yang tidak mengalami sendiri atau
menyelidiki sendiri persoalan itu.
c.
Autoritas : Cara ketiga yang dapat dipergunakan untuk menguji
fakta dalam usaha menyusun evidensi adalah meminta pendapat dari suatu autoritas,
yakni pendapat dari seorang ahli, atau mereka yang telah menyelidiki
fakta-fakta itu dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua
fakta kemudian memberikan pendapat mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam
bidang itu.
Cara Menguji Fakta
a. Konsistensi : Dasar
pertama yang dipakai untuk menetapkan fakta mana yang akan dipakai sebagai
evidensi adalah kekonsistenan. Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai
tenaga persuasif yang tinggi, kalau evidensi-evidensinya bersifat konsisten,
tidak ada satu evidensi bertentangan atau melemahkan evidensi yang lain.
b. Koherensi : Dasar kedua yang dapat dipakai untuk mengadakan penilaian fakta mana yang
dapat dipergunakan sebagai evidensi adalah masalah koherensi. Semua fakta yang
akan dipergunakan sebagai evidensi harus pula koheren dengan
pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan pandangan atau sikap yang
berlaku. Bila penulis menginginkan agar sesuatu hal dapat diterima, ia harus
meyakinkan pembaca bahwa karena pembaca setuju atau menerima fakta-fakta dan
jalan pikiran yang menemukakannya, maka secara konsekuen pula pembaca harus
menerima hal lain, yaitu konklusinya.
7. Cara Menilai Autoritas ilmiah
Seorang penulis yang objektif selalu
menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang
baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat
yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
a. Tidak Mengandung Prasangka : Dasar pertama yang perlu diketahui oleh penulis
adalah bahwa pendapat autoritas sama sekali tidak boleh mengandung prasangka.
Yang tidak mengandung prasangka artinya pendapat itu disusun berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh ahli itu sendiri, atau didasarkan pada
hasil-hasil eksperimental yang dilakukannya. Pengertian tidak mengandung
prasangka juga mencakup hal lain, yaitu bahwa autoritas itu tidak boleh
memperoleh keuntungan pribadi dari data-data eksperimentalnya.
b. Pengalaman dan Pendidikan Autoritas : Dasar kedua
yang harus diperhitungkan penulis untuk menilai pendapat suatu autoritas adalah
menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperolehnya
harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan-kegiatan sebagai seorang ahli
yang diperoleh melalui pendidikannya tadi. Walaupun jaman kita
ini sudah begitu condong atau cenderung dengan berbagai macam spesifikasi, namun
kita tidak boleh mengabaikan keahlian seseorang dalam beberapa macam bidang
tertentu.
c. Kemashuran dan Prestise : Faktor ketiga yang harus diperhatikan
oleh penulis untuk menilai autoritas adalah meneliti apakah pernyataan atau
pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas itu hanya sekedar bersembunyi di
balik kemashuran dan prestise pribadi di bidang lain.
d. Koherensi dengan Kemajuan : Hal keempat yang perlu diperhatikan penulis
argumentasi adalah apakah pendapat yang diberikan autoritas itu sejalan dengan
perkembangan dan kemajuan jaman, atau koheren dengan pendapat atau sikap
terakhir dalam bidang itu. untuk memberi evaluasi yang tepat terhadap autoritas
yang dikutip, pengarang harus menyebut nama autoritas, gelar, kedudukatif, dan
sumber khusus tempat kutipan itu dijumpai. Bila mungkin penulis harus mengutip
setepat-tepatnya kata-kata atau kalimat autoritas tersebut. Untuk
memperlihatkan bahwa penulis sungguh-sungguh siap dengan persoalan yang tengah
diargumentasikan, maka sebaiknya seluruh argumentasi itu jangan didasarkan
hanya pada satu autoritas.
Referensi :
http://id.wikipedia.org
Nama :
Inatesia Fatmawati
Npm :
24213342
Kelas : 3 EB 24
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2
(softskill)
sangat membantu kak:)
BalasHapus